Halmahera Selatan — Kasus dugaan penipuan jual beli online kembali mengguncang masyarakat di Kabupaten Halmahera Selatan. Seorang penjual online bernama Claudyah Kandijoh Moningka diduga telah menipu sejumlah warga melalui transaksi daring dengan total kerugian mencapai ratusan juta rupiah.
Informasi yang dihimpun menyebutkan, pelaku diduga berasal dari Manado dan kini dilaporkan telah melarikan diri ke wilayah tersebut bersama keluarganya. Dugaan ini semakin memperkuat kekhawatiran para korban yang hingga kini belum mendapatkan kejelasan.
Modus yang digunakan pelaku tergolong rapi dan meyakinkan. Ia menawarkan berbagai produk rumah tangga seperti bed cover dan barang lainnya melalui media sosial dengan harga yang jauh lebih murah dibandingkan harga pasaran. Tampilan produk yang menarik serta komunikasi yang meyakinkan membuat banyak warga percaya dan akhirnya melakukan transaksi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sejumlah korban mengaku telah mentransfer uang dalam jumlah besar. Namun, setelah pembayaran dilakukan, barang yang dijanjikan tidak pernah dikirim. Kecurigaan mulai muncul ketika nomor kontak pelaku tidak lagi aktif. Akun Facebook yang digunakan untuk berjualan pun dilaporkan menghilang atau dinonaktifkan secara tiba-tiba.
Salah satu korban menyebutkan bahwa awalnya tidak ada tanda-tanda mencurigakan. “Semua terlihat normal, bahkan pelaku sangat responsif saat kami bertanya. Tapi setelah uang ditransfer, langsung hilang kontak,” ungkapnya.
Kasus ini memicu kemarahan publik di Halmahera Selatan. Warga mendesak aparat penegak hukum untuk segera bertindak cepat dan mengusut tuntas kasus tersebut. Para korban juga berharap pelaku segera ditangkap dan mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak berwenang terkait perkembangan penyelidikan. Namun, kasus ini menjadi peringatan keras bagi masyarakat untuk lebih waspada terhadap maraknya penipuan online.
Masyarakat diimbau agar tidak mudah tergiur dengan harga murah yang tidak masuk akal, selalu memverifikasi identitas penjual, serta menggunakan platform transaksi yang memiliki sistem perlindungan konsumen.
Fenomena ini menunjukkan bahwa kejahatan digital terus berkembang dengan berbagai modus baru yang semakin sulit dideteksi. Di balik kemudahan berbelanja online, tersimpan risiko besar yang dapat menjerat siapa saja jika tidak berhati-hati.
(Redaksi)









