Halmahera Selatan, 21 Maret 2026 — Masyarakat Desa Bisui, Kecamatan Gane Timur Tengah, kembali meluapkan kekecewaan mendalam terhadap buruknya pelayanan kesehatan di Rumah Sakit Pratama (RS Pratama) Bisui. Kondisi ini dinilai sudah berada pada tahap darurat dan membahayakan keselamatan warga.
Keluhan warga bukan tanpa alasan.
Mereka menyoroti tindakan medis yang dianggap tidak efektif, pelayanan yang lambat, hingga minimnya fasilitas dasar seperti ketersediaan oksigen yang seharusnya menjadi kebutuhan utama dalam penanganan pasien kritis.
“Saya dan banyak warga sudah tidak tahan lagi. Kalau sakit parah, kami terpaksa ke Labuha bahkan keluar pulau. Di sini, pelayanan seperti tidak serius. Oksigen saja tidak tersedia. Ini sangat memprihatinkan,” ungkap seorang warga yang meminta identitasnya dirahasiakan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT

RS Pratama Bisui yang terletak di Jalan Poros Bisui selama beberapa tahun terakhir memang kerap menjadi sorotan. Namun, kondisi terbaru disebut lebih mengkhawatirkan. Warga menilai, rumah sakit yang seharusnya menjadi garda terdepan pelayanan kesehatan justru tidak mampu memenuhi standar dasar.
Kekurangan fasilitas medis menjadi persoalan utama. Pasien dengan gangguan pernapasan sering kali tidak mendapat penanganan maksimal akibat ketiadaan tabung oksigen. Selain itu, proses pelayanan dinilai berbelit, tenaga medis kurang responsif, serta tidak selalu tersedia dokter saat dibutuhkan.
Tokoh masyarakat setempat menegaskan bahwa persoalan ini tidak hanya soal fasilitas, tetapi juga menyangkut profesionalisme dan tanggung jawab tenaga kesehatan.
“Kami minta pemerintah daerah tegas. Jangan hanya sosialisasi tanpa tindakan nyata. Pengawasan harus diperketat. Ini menyangkut nyawa manusia,” tegasnya.
Masalah di RS Pratama Bisui sebenarnya telah berulang kali dilaporkan. Pada tahun 2024 hingga 2025, berbagai temuan mencuat, mulai dari keterbatasan alat medis, kondisi bangunan yang tidak terawat, hingga dugaan rendahnya disiplin petugas.
Ironisnya, meskipun telah dilakukan beberapa kali monitoring oleh pemerintah daerah dan Dinas Kesehatan Kabupaten Halmahera Selatan, warga menilai belum ada perubahan signifikan. Transparansi penggunaan anggaran pun menjadi sorotan, karena dianggap tidak jelas dan tidak berdampak langsung pada peningkatan layanan.
Direktur RS Pratama Bisui, dr. Elisabeth Bernadate, sebelumnya menyebut keterbatasan anggaran sebagai kendala utama. Namun, pernyataan tersebut tidak sepenuhnya diterima masyarakat. Warga menilai, masalah utama bukan hanya dana, tetapi juga manajemen dan komitmen dalam memberikan pelayanan yang layak.
Sebagai bentuk keseriusan, Kepala Desa Bisui bersama tokoh masyarakat berencana menggelar audiensi langsung dengan Bupati Halmahera Selatan dalam waktu dekat. Mereka berharap ada langkah konkret, termasuk evaluasi menyeluruh terhadap manajemen rumah sakit.
“Kalau tidak ada tindakan tegas, ini sama saja membiarkan masyarakat dalam risiko. Rumah sakit seharusnya menyelamatkan, bukan justru membahayakan,” ujar salah satu warga.
Kasus ini kembali menjadi cerminan masih lemahnya akses pelayanan kesehatan di daerah terpencil. Masyarakat berharap pemerintah daerah segera turun tangan dengan solusi nyata demi memastikan setiap warga mendapatkan hak dasar atas layanan kesehatan yang aman, layak, dan manusiawi.
Tim/red










