LABUHA, HALMAHERA SELATAN – Kisah pilu kembali menyelimuti dunia pendidikan di Kabupaten Halmahera Selatan. Seorang siswi berprestasi asal SMP Negeri 1 HALSEL, Najlah Majida Djafar, terancam gagal mengikuti ajang Junior Science Olympiad (JSO) Tingkat Nasional yang akan digelar di Institut Pertanian Bogor (IPB), Jawa Barat, akibat keterbatasan biaya keberangkatan.
Najlah yang berhasil meraih Juara 1 JSO bidang Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) seharusnya menjadi salah satu wakil yang membawa nama baik Halmahera Selatan di tingkat nasional. Namun impian tersebut kini berada di ujung tanduk karena keluarganya tidak memiliki kemampuan finansial untuk membiayai perjalanan dan kebutuhan selama mengikuti kompetisi.
Kondisi ini mendapat sorotan dari Gerakan Pemuda Marhaenis (GPM) Kabupaten Halmahera Selatan. Ketua GPM Halsel, Harmain Rusli, SH, menilai pemerintah daerah perlu memberikan perhatian serius terhadap peserta didik berprestasi, terutama mereka yang menghadapi kendala ekonomi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Pemerintah daerah harus lebih peka terhadap dunia pendidikan. Adik Najlah adalah siswa berprestasi yang telah mengharumkan nama Halmahera Selatan. Sangat disayangkan jika prestasi sebesar ini terhambat hanya karena persoalan biaya,” tegas Harmain kepada media, Selasa (23/6/2026).
Menurut Harmain, kebijakan yang hanya menanggung biaya peserta peraih medali emas sementara peserta peraih medali perak harus membiayai sendiri keberangkatan mereka perlu dievaluasi. Ia menegaskan bahwa seluruh peserta yang berhasil lolos hingga tingkat nasional merupakan aset daerah yang layak mendapatkan dukungan.
“Baik medali emas maupun medali perak, keduanya adalah prestasi yang membanggakan. Jangan ada perlakuan yang membeda-bedakan. Mereka semua telah berjuang membawa nama daerah dan seharusnya mendapat perhatian yang sama,” ujarnya.
Ia juga mempertanyakan dampak yang akan terjadi jika Najlah benar-benar gagal berangkat ke Bogor. Sebagai Juara 1 JSO IPA, ketidakhadirannya dinilai akan meninggalkan kekosongan bagi kontingen Halmahera Selatan pada cabang yang telah berhasil ia menangkan.
“Kalau Najlah tidak berangkat, siapa yang akan mengisi posisi peserta JSO IPA yang telah ia perjuangkan hingga menjadi juara? Ini bukan hanya soal satu siswa, tetapi juga menyangkut nama baik dan representasi Halmahera Selatan di tingkat nasional,” tambah Harmain.
GPM Halsel pun secara terbuka meminta Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan, Dinas Pendidikan, serta pihak-pihak terkait untuk segera mengambil langkah konkret agar Najlah tetap dapat mengikuti kompetisi nasional tersebut.
Sementara itu, Najlah Majida Djafar mengaku sangat berharap bisa tampil di ajang nasional dan membawa nama daerahnya bersaing dengan peserta dari seluruh Indonesia. Namun keterbatasan ekonomi keluarga menjadi hambatan terbesar yang saat ini dihadapinya.
“Saya ingin membawa nama Halmahera Selatan di tingkat nasional dan memberikan yang terbaik untuk daerah saya. Tetapi orang tua saya tidak sanggup membiayai keberangkatan saya ke IPB Bogor,” ungkap Najlah dengan penuh harap.
Kasus yang menimpa Najlah kini menjadi perhatian masyarakat. Banyak pihak menilai bahwa prestasi akademik tidak seharusnya terhenti karena persoalan biaya. Di tengah gencarnya kampanye peningkatan kualitas sumber daya manusia dan pendidikan, publik berharap pemerintah hadir memberikan solusi nyata bagi siswa-siswi berprestasi yang membutuhkan dukungan.
Perjuangan Najlah menjadi pengingat bahwa di balik setiap medali dan sertifikat penghargaan, terdapat mimpi besar anak daerah yang membutuhkan keberpihakan dan perhatian. Pertanyaannya kini, akankah pemerintah daerah membiarkan Juara 1 JSO IPA Halmahera Selatan gagal tampil di tingkat nasional hanya karena keterbatasan biaya?
TIM/RED









