Halmahera Selatan, 23 Maret 2026 – Masyarakat Desa Bisui, Kecamatan Gane Timur Tengah, Kabupaten Halmahera Selatan, kembali menyuarakan kekecewaan mendalam terhadap pengelolaan Rumah Sakit Pratama Bisui. Mereka secara tegas meminta Pemerintah Daerah Kabupaten Halmahera Selatan dan Bupati Hasan Ali Bassam Kasuba untuk segera melakukan pencopotan jabatan terhadap Direktur RS Pratama Bisui, dr. Elisabeth Bernadete, karena dinilai tidak pernah memperhatikan fasilitas rumah sakit, khususnya suplai oksigen yang krusial dalam proses rujukan pasien.
Permintaan ini disampaikan secara langsung oleh warga setempat yang merasa keselamatan nyawa keluarga mereka terancam akibat kelalaian manajemen rumah sakit.
“Kami meminta kepada pemerintah daerah Kabupaten Halmahera Selatan atau Bupati Hasan Ali Bassam Kasuba agar segera melakukan pencopotan jabatan terhadap Direktur Rumah Sakit Bisui, karena tidak pernah memperhatikan fasilitas rumah sakit dalam hal ini seperti oksigen yang biasanya digunakan oleh proses rujukan pasien,” demikian bunyi tuntutan yang beredar di kalangan warga Desa Bisui.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut warga, fasilitas oksigen di RS Pratama Bisui sering kali tidak tersedia atau tidak terawat dengan baik saat pasien membutuhkan rujukan ke rumah sakit rujukan tingkat lanjutan. Hal ini sangat membahayakan pasien yang mengalami kondisi darurat seperti sesak napas, gagal napas, atau komplikasi medis lainnya yang memerlukan suplai oksigen stabil selama proses transportasi dan rujukan.
“Berapa banyak pasien yang harus menderita atau bahkan kehilangan nyawa karena oksigen tidak siap? Direktur seharusnya fokus memperbaiki fasilitas dasar ini, bukan mengabaikannya,” ujar salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya karena khawatir dampaknya.
Keluhan ini bukan yang pertama kali. Sejak beberapa tahun terakhir, RS Pratama Bisui yang berlokasi di Jalan Desa Bisui, Kecamatan Gane Timur Tengah, sering menjadi sorotan publik atas berbagai masalah pelayanan. Mulai dari minimnya alat medis, ruang rawat inap yang tidak layak, hingga kebijakan manajemen yang dinilai tidak pro-pasien. Warga menilai, kondisi ini semakin memburuk di bawah kepemimpinan direktur saat ini, di mana perhatian terhadap pemeliharaan dan pengadaan fasilitas vital seperti instalasi oksigen hampir nihil.
Seorang tokoh masyarakat Desa Bisui menambahkan bahwa proses rujukan pasien sering terhambat karena keterbatasan oksigen. “Pasien yang dirujuk ke Ternate atau Labuha harus menunggu lama atau bahkan dibawa tanpa oksigen yang memadai. Ini bukan hanya soal kenyamanan, tapi soal nyawa. Pemerintah daerah harus bertindak tegas,” tegasnya.
Sementara itu, upaya konfirmasi kepada pihak RS Pratama Bisui dan Direktur dr. Elisabeth Bernadete hingga berita ini diturunkan belum mendapat tanggapan. Begitu pula dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Halmahera Selatan yang dimintai keterangan terkait tuntutan pencopotan jabatan ini.
Bupati Hasan Ali Bassam Kasuba dan Wakil Bupati Helmi Umar Muchsin sebelumnya telah menyatakan komitmen untuk meningkatkan pelayanan kesehatan di seluruh wilayah Halsel, termasuk perbaikan infrastruktur rumah sakit di daerah terpencil seperti Gane Raya. Namun, tuntutan warga Desa Bisui kali ini semakin mendesak agar komitmen tersebut segera diwujudkan dengan tindakan konkret, yakni evaluasi dan pencopotan jika diperlukan.
Warga Desa Bisui mengancam akan melakukan aksi demonstrasi damai jika tuntutan ini tidak ditindaklanjuti dalam waktu dekat. Mereka berharap Pemerintah Daerah Kabupaten Halmahera Selatan dapat mendengar suara rakyat dan memprioritaskan keselamatan warga melalui pelayanan kesehatan yang layak.
Kasus ini menjadi pengingat bagi seluruh pemangku kepentingan bahwa fasilitas kesehatan dasar seperti oksigen bukanlah hal sepele, melainkan kebutuhan vital yang menentukan hidup atau mati pasien, terutama di daerah pedalaman seperti Desa Bisui. Pemerintah diharapkan segera bertindak sebelum korban jiwa bertambah.
Bung:Diman










