Kristin welsia Aru, Mahasisqa psikologi Universitas Muhammadiyah Maluku Utara
Dalam era digitalisasi saat ini, perkembangan teknologi berlangsung sangat pesat sehingga masyarakat semakin banyak menghabiskan waktu di dunia virtual dibandingkan berinteraksi secara langsung dalam kehidupan nyata. Kondisi ini membuat banyak orang berusaha menampilkan citra terbaik mereka di media sosial, seperti YouTube, Instagram, dan TikTok. Salah satu fenomena yang muncul dari perkembangan tersebut adalah budaya flexing, yaitu perilaku memamerkan kekayaan, gaya hidup, pencapaian, atau barang mewah demi menarik perhatian dan memperoleh pengakuan sosial dari orang lain.
Fenomena ini kini banyak dilakukan oleh pengguna media sosial sebagai cara untuk meningkatkan popularitas, membangun citra diri, hingga mendapatkan validasi dari lingkungan digital.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Flexing merupakan istilah yang merujuk pada perilaku seseorang yang gemar menampilkan diri dengan menonjolkan kemewahan, kelimpahan, atau kekayaan yang dimiliki. Di media sosial, perilaku ini sering terlihat melalui unggahan barang mewah, gaya hidup glamor, perjalanan, hingga pencapaian pribadi yang sengaja dipamerkan untuk membangun citra atau personal branding tertentu.
Fenomena tersebut kini menjadi hal yang umum di tengah masyarakat digital sebagai upaya untuk menarik perhatian publik, memperoleh pengakuan sosial, serta meningkatkan popularitas di dunia maya.
Dampak flexing bagi anak muda dapat terlihat dalam berbagai aspek kehidupan sosial di era digital saat ini. Perkembangan teknologi dan media sosial membuat remaja semakin mudah terpapar konten yang menampilkan gaya hidup mewah, barang bermerek, perjalanan, kendaraan mahal, hingga pencapaian pribadi yang terlihat sempurna.
Kehadiran platform seperti YouTube dll,menjadikan masyarakat, khususnya generasi muda, hidup dalam lingkungan digital yang penuh dengan tuntutan pencitraan dan pengakuan sosial. Kondisi tersebut secara tidak langsung memengaruhi cara remaja memandang diri sendiri maupun orang lain dalam kehidupan sehari-hari.
Fenomena flexing kemudian memunculkan perubahan pola interaksi sosial di kalangan anak muda. Media sosial yang awalnya digunakan sebagai sarana komunikasi dan berbagi informasi kini berkembang menjadi tempat untuk menunjukkan status sosial dan membangun citra diri di hadapan publik. Banyak remaja mulai berlomba menampilkan kehidupan terbaik mereka demi mendapatkan perhatian, pengakuan, serta popularitas di dunia digital. Tidak sedikit pula yang menjadikan jumlah pengikut, jumlah suka, dan komentar sebagai ukuran penerimaan sosial dalam lingkungan pergaulan mereka.
Akibatnya, muncul budaya konsumtif yang semakin kuat di kalangan generasi muda. Banyak anak muda membeli barang tertentu, mengikuti tren fashion, nongkrong di tempat-tempat populer, atau memaksakan gaya hidup tertentu demi terlihat menarik di media sosial. Dalam banyak kasus, tindakan tersebut dilakukan bukan karena kebutuhan, melainkan demi menjaga gengsi dan memperoleh validasi sosial dari orang lain.
Fenomena ini menunjukkan bahwa media sosial memiliki pengaruh besar dalam membentuk perilaku dan gaya hidup masyarakat modern, terutama pada remaja yang sedang berada dalam proses pencarian identitas diri.
Selain memengaruhi gaya hidup, budaya flexing juga mengubah cara pandang anak muda terhadap makna kesuksesan. Saat ini, kesuksesan sering kali digambarkan melalui kemewahan, penampilan, popularitas, dan kemampuan untuk menunjukkan kehidupan yang terlihat sempurna di media sosial. Akibatnya, banyak remaja mulai menilai seseorang berdasarkan apa yang dimiliki dan ditampilkan di internet, bukan dari kemampuan, pendidikan, proses perjuangan, maupun kualitas pribadinya.
Kondisi tersebut memperlihatkan adanya pergeseran nilai sosial dalam masyarakat modern, di mana citra dan penampilan menjadi hal yang sangat penting dalam kehidupan sosial.
Di sisi lain, fenomena flexing juga menunjukkan bagaimana globalisasi dan perkembangan teknologi telah membawa perubahan besar terhadap budaya masyarakat. Tren gaya hidup yang berasal dari luar negeri dapat dengan cepat menyebar dan diikuti oleh remaja melalui media sosial. Akibatnya, banyak anak muda lebih mudah terpengaruh oleh budaya populer yang menekankan kemewahan dan pencitraan dibandingkan nilai kesederhanaan, solidaritas sosial, dan penghargaan terhadap proses kehidupan. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi generasi muda dalam menghadapi perkembangan dunia digital yang semakin bebas dan terbuka.
Oleh karena itu, penting bagi anak muda untuk lebih bijak dalam menggunakan media sosial dan memahami bahwa tidak semua yang ditampilkan di internet mencerminkan kehidupan nyata. Media sosial seharusnya digunakan sebagai sarana berbagi informasi, kreativitas, komunikasi, serta pengembangan diri, bukan sebagai alat untuk mengukur nilai diri maupun status sosial seseorang.
Generasi muda juga perlu membangun kesadaran bahwa kesuksesan tidak hanya dilihat dari materi dan popularitas, tetapi juga dari kemampuan, pendidikan, etika, serta kontribusi positif yang diberikan kepada masyarakat dan lingkungan sekitar.
Opini ini dibuat sebagai bagian dari kepentingan tugas tengah semester, mata kuliah pengantar sosiologi. yang membahas fenomena sosial budaya flexing di era digital serta dampaknya terhadap kehidupan generasi muda dalam perspektif sosiologi.









