Flexing di Era Digital: Bentuk Eksistensi dan Pencarian Pengakuan Sosial di Kalangan Anak Muda

- Penulis

Minggu, 10 Mei 2026 - 01:32 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kristin welsia Aru, Mahasisqa psikologi Universitas Muhammadiyah Maluku Utara

Dalam era digitalisasi saat ini, perkembangan teknologi berlangsung sangat pesat sehingga masyarakat semakin banyak menghabiskan waktu di dunia virtual dibandingkan berinteraksi secara langsung dalam kehidupan nyata. Kondisi ini membuat banyak orang berusaha menampilkan citra terbaik mereka di media sosial, seperti YouTube, Instagram, dan TikTok. Salah satu fenomena yang muncul dari perkembangan tersebut adalah budaya flexing, yaitu perilaku memamerkan kekayaan, gaya hidup, pencapaian, atau barang mewah demi menarik perhatian dan memperoleh pengakuan sosial dari orang lain.

Fenomena ini kini banyak dilakukan oleh pengguna media sosial sebagai cara untuk meningkatkan popularitas, membangun citra diri, hingga mendapatkan validasi dari lingkungan digital.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Flexing merupakan istilah yang merujuk pada perilaku seseorang yang gemar menampilkan diri dengan menonjolkan kemewahan, kelimpahan, atau kekayaan yang dimiliki. Di media sosial, perilaku ini sering terlihat melalui unggahan barang mewah, gaya hidup glamor, perjalanan, hingga pencapaian pribadi yang sengaja dipamerkan untuk membangun citra atau personal branding tertentu.

Fenomena tersebut kini menjadi hal yang umum di tengah masyarakat digital sebagai upaya untuk menarik perhatian publik, memperoleh pengakuan sosial, serta meningkatkan popularitas di dunia maya.
Dampak flexing bagi anak muda dapat terlihat dalam berbagai aspek kehidupan sosial di era digital saat ini. Perkembangan teknologi dan media sosial membuat remaja semakin mudah terpapar konten yang menampilkan gaya hidup mewah, barang bermerek, perjalanan, kendaraan mahal, hingga pencapaian pribadi yang terlihat sempurna.

Kehadiran platform seperti YouTube dll,menjadikan masyarakat, khususnya generasi muda, hidup dalam lingkungan digital yang penuh dengan tuntutan pencitraan dan pengakuan sosial. Kondisi tersebut secara tidak langsung memengaruhi cara remaja memandang diri sendiri maupun orang lain dalam kehidupan sehari-hari.

Fenomena flexing kemudian memunculkan perubahan pola interaksi sosial di kalangan anak muda. Media sosial yang awalnya digunakan sebagai sarana komunikasi dan berbagi informasi kini berkembang menjadi tempat untuk menunjukkan status sosial dan membangun citra diri di hadapan publik. Banyak remaja mulai berlomba menampilkan kehidupan terbaik mereka demi mendapatkan perhatian, pengakuan, serta popularitas di dunia digital. Tidak sedikit pula yang menjadikan jumlah pengikut, jumlah suka, dan komentar sebagai ukuran penerimaan sosial dalam lingkungan pergaulan mereka.

Akibatnya, muncul budaya konsumtif yang semakin kuat di kalangan generasi muda. Banyak anak muda membeli barang tertentu, mengikuti tren fashion, nongkrong di tempat-tempat populer, atau memaksakan gaya hidup tertentu demi terlihat menarik di media sosial. Dalam banyak kasus, tindakan tersebut dilakukan bukan karena kebutuhan, melainkan demi menjaga gengsi dan memperoleh validasi sosial dari orang lain.

Baca Juga:  KKSD UMMU Kelompok 4 Awali Pengabdian dengan Bersihkan Aula Desa dan Survei Lapangan

Fenomena ini menunjukkan bahwa media sosial memiliki pengaruh besar dalam membentuk perilaku dan gaya hidup masyarakat modern, terutama pada remaja yang sedang berada dalam proses pencarian identitas diri.

Selain memengaruhi gaya hidup, budaya flexing juga mengubah cara pandang anak muda terhadap makna kesuksesan. Saat ini, kesuksesan sering kali digambarkan melalui kemewahan, penampilan, popularitas, dan kemampuan untuk menunjukkan kehidupan yang terlihat sempurna di media sosial. Akibatnya, banyak remaja mulai menilai seseorang berdasarkan apa yang dimiliki dan ditampilkan di internet, bukan dari kemampuan, pendidikan, proses perjuangan, maupun kualitas pribadinya.

Kondisi tersebut memperlihatkan adanya pergeseran nilai sosial dalam masyarakat modern, di mana citra dan penampilan menjadi hal yang sangat penting dalam kehidupan sosial.

Di sisi lain, fenomena flexing juga menunjukkan bagaimana globalisasi dan perkembangan teknologi telah membawa perubahan besar terhadap budaya masyarakat. Tren gaya hidup yang berasal dari luar negeri dapat dengan cepat menyebar dan diikuti oleh remaja melalui media sosial. Akibatnya, banyak anak muda lebih mudah terpengaruh oleh budaya populer yang menekankan kemewahan dan pencitraan dibandingkan nilai kesederhanaan, solidaritas sosial, dan penghargaan terhadap proses kehidupan. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi generasi muda dalam menghadapi perkembangan dunia digital yang semakin bebas dan terbuka.

Oleh karena itu, penting bagi anak muda untuk lebih bijak dalam menggunakan media sosial dan memahami bahwa tidak semua yang ditampilkan di internet mencerminkan kehidupan nyata. Media sosial seharusnya digunakan sebagai sarana berbagi informasi, kreativitas, komunikasi, serta pengembangan diri, bukan sebagai alat untuk mengukur nilai diri maupun status sosial seseorang.

Generasi muda juga perlu membangun kesadaran bahwa kesuksesan tidak hanya dilihat dari materi dan popularitas, tetapi juga dari kemampuan, pendidikan, etika, serta kontribusi positif yang diberikan kepada masyarakat dan lingkungan sekitar.

Opini ini dibuat sebagai bagian dari kepentingan tugas tengah semester, mata kuliah pengantar sosiologi. yang membahas fenomena sosial budaya flexing di era digital serta dampaknya terhadap kehidupan generasi muda dalam perspektif sosiologi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel trendhalsel.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

KKSD UMMU Kelompok 4 Awali Pengabdian dengan Bersihkan Aula Desa dan Survei Lapangan
SMAS Tododara Maitara Resmi Buka Pendaftaran SPMB 2026/2027, Siap Cetak Generasi Unggul dan Berkarakter
Peran Sosiologi dalam Membaca Masyarakat Modern: Legu Gam dan Identitas Budaya Ternate di Tengah Arus Modernisasi
Peran Sosiologi dalam Memahami Masyarakat Modern: Fenomena FOMO di Era Digital
Peran Sosiologi dalam Memahami Masyarakat Modern
Isu Penyalahgunaan BBM di SPBUN Dufa-dufa Ternyata Salah Paham, Ini Penjelasan Pengelola
Tabebuya Mekar Serentak, Bacan dan Tidore Disulap Jadi “Negeri Empat Musim” Dadakan
KETIKA LOGIKA PASAR MENGUASAI DUNIA PENDIDIKAN
Berita ini 16 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 19 Mei 2026 - 07:39 WIT

KKSD UMMU Kelompok 4 Awali Pengabdian dengan Bersihkan Aula Desa dan Survei Lapangan

Senin, 11 Mei 2026 - 03:08 WIT

SMAS Tododara Maitara Resmi Buka Pendaftaran SPMB 2026/2027, Siap Cetak Generasi Unggul dan Berkarakter

Minggu, 10 Mei 2026 - 01:34 WIT

Peran Sosiologi dalam Membaca Masyarakat Modern: Legu Gam dan Identitas Budaya Ternate di Tengah Arus Modernisasi

Minggu, 10 Mei 2026 - 01:32 WIT

Flexing di Era Digital: Bentuk Eksistensi dan Pencarian Pengakuan Sosial di Kalangan Anak Muda

Sabtu, 9 Mei 2026 - 13:14 WIT

Peran Sosiologi dalam Memahami Masyarakat Modern: Fenomena FOMO di Era Digital

Berita Terbaru

Kepulauan Tidore

KKSD UMMU Kelompok 3 Bahas Program Pengabdian Bersama Pemdes Tului

Selasa, 19 Mei 2026 - 11:59 WIT

Halmahera Selatan

Kades Ilegal, Dana Desa Tidak Sah: Bom Waktu Korupsi di Depan Mata

Selasa, 19 Mei 2026 - 11:54 WIT

Kepulauan Sula

Mahasiswa Hukum UMMU Soroti Dugaan Korupsi DD dan ADD Desa Kabau Pantai

Minggu, 17 Mei 2026 - 04:12 WIT