Peran Sosiologi dalam Memahami Masyarakat Modern: Fenomena FOMO di Era Digital

- Penulis

Sabtu, 9 Mei 2026 - 13:14 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Masyarakat modern ditandai oleh perkembangan pesat dalam bidang teknologi, komunikasi, dan pola interaksi sosial. Perkembangan tersebut memungkinkan informasi tersebar secara instan melalui internet dan arus informasi digital, sehingga memengaruhi cara berpikir dan berperilaku manusia dalam kehidupan sehari-hari. Mengacu pada Selo Soemardjan, yang berpendapat bahwa masyarakat modern adalah entitas sosial yang mengutamakan rasionalitas, ilmu pengetahuan, dan teknologi. Secara luas, masyarakat modern mengalami perubahan sosial berkelanjutan akibat dinamika ilmu pengetahuan, teknologi, serta pola interaksi yang semakin kompleks.

Memasuki era 1990-an hingga 2000-an, teknologi digital seperti internet dan telepon seluler mulai diadopsi secara masif. Inovasi ini menghilangkan sekat geografis dan memungkinkan manusia terhubung secara simultan. Akibatnya, muncul beragam ekspresi sosial berupa tren, gaya hidup, pola pikir, hingga kebiasaan baru yang disebarluaskan secara kolektif, terutama oleh tokoh publik dan _influencer_. Dalam konteks ini, sosiologi memiliki signifikan untuk menjelaskan transformasi perilaku masyarakat modern.

Sosiologi mengkaji individu, relasi sosial, pengaruh lingkungan, dan struktur sosial yang terbentuk di masyarakat. Melalui perspektif sosiologi, dapat dipahami bahwa perilaku sosial bukanlah fenomena spontan, melainkan hasil dari interaksi sosial, perkembangan budaya, perubahan teknologi, serta nilai-nilai adat yang tetap dipertahankan. Salah satu fenomena sosial yang menonjol di era digital adalah _Fear of Missing Out_ (FOMO).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

FOMO sendiri telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat modern, khususnya di kalangan Generasi Z dan pengguna aktif media sosial, termasuk sebagian orang tua. FOMO dimaknai sebagai kecemasan akan tertinggal dari tren, informasi, maupun pengalaman sosial yang dijalani orang lain. Fenomena ini merefleksikan bagaimana teknologi digital membentuk ulang pola perilaku dan interaksi sosial individu.

Sosiologi berperan krusial dalam menjelaskan relasi antara individu dan lingkungan sosialnya. Perilaku manusia kerap dianggap sebagai pilihan personal semata. Namun, sosiologi menegaskan bahwa tindakan individu dipengaruhi oleh norma sosial, budaya, kelompok pertemanan, institusi pendidikan, hingga lingkungan kerja. Lingkungan tersebut secara tidak langsung membentuk orientasi perilaku masyarakat.

Berbeda dengan masyarakat tradisional yang interaksinya terbatas pada lingkup lokal, masyarakat modern hidup dalam arus informasi tanpa jeda. Kondisi ini mendorong individu untuk terus membandingkan dirinya dengan representasi kehidupan orang lain di media sosial. Konsekuensinya, rasa takut tertinggal lebih mudah muncul. Kemudahan akses informasi yang memungkinkan praktik peniruan ini menimbulkan dampak ganda, baik positif maupun negatif. Oleh karena itu, sosiologi dibutuhkan untuk memahami cara masyarakat berkomunikasi dan beradaptasi dengan perubahan tersebut. Dengan pendekatan sosiologis, fenomena sosial tidak direduksi menjadi persoalan individu, melainkan dipahami sebagai konsekuensi dari struktur sosial dan lingkungan digital modern.

FOMO juga merupakan contoh konkret perubahan perilaku sosial di era digital. Media sosial mempercepat distribusi informasi yang dapat diakses tanpa batas. Masyarakat secara kontinu terpapar aktivitas, gaya hidup, dan tren orang lain. Dalam situasi tersebut, individu cenderung membandingkan kehidupannya dengan konten yang ditampilkan, tanpa memahami realitas utuh di baliknya. Akibatnya, muncul tekanan sosial, ketakutan akan ketertinggalan, hingga krisis kepercayaan diri.

Baca Juga:  Rokok Ilegal Merajalela di Maluku Utara, Aliansi Peduli Rakyat Pertanyakan Ketegasan Negara

Pada dasarnya, kecenderungan mengikuti lingkungan sosial bukanlah hal baru. Sebagai makhluk sosial, manusia memiliki kebutuhan untuk diterima dan diakui oleh kelompoknya. Akan tetapi, teknologi komunikasi digital memperluas dan mengintensifkan kebutuhan tersebut hingga mencapai skala global.

FOMO tidak semata-mata terjadi karena keinginan mengikuti tren, tetapi juga diperkuat oleh paparan konten yang berlebihan dan tanpa filter di platform seperti TikTok, Instagram, dan Facebook. Ketika media sosial menyajikan konten viral dan lingkungan sekitar turut mengadopsinya, individu terdorong untuk berpartisipasi agar tidak merasa terasing. Dengan demikian, perilaku individu merupakan hasil dari proses interaksi sosial yang berlangsung terus-menerus.

Contoh empiris FOMO terlihat pada tren olahraga lari yang menguat dalam beberapa tahun terakhir. Fenomena ini berdampak positif karena mendorong gaya hidup sehat. Namun, tren tersebut mengalami pergeseran makna: dari aktivitas fisik menjadi ajang menampilkan _outfit_ tertentu. Hal ini membuktikan bahwa tren sosial tidak hanya membentuk kebiasaan, tetapi juga mengonstruksi cara individu merepresentasikan identitasnya di ruang publik.

Fenomena serupa terjadi di Tidore melalui viralnya “bunga sakura”, yang sejatinya adalah pohon Tabebuia di Kelurahan Rum Balibunga, Tidore Utara. Pemandangan dengan latar Pulau Maitara dan Gunung Gamalama menarik banyak pengunjung untuk berfoto dan mengikuti tren. Akan tetapi, aktivitas tersebut menimbulkan eksternalitas negatif berupa kemacetan dan perilaku destruktif, seperti pematahan cabang pohon demi kepentingan konten pribadi. Kasus ini mengilustrasikan bagaimana dorongan untuk terlibat dalam tren dapat menggeser perilaku individu hingga mengabaikan kepentingan kolektif dan kesadaran ekologis.

FOMO memiliki implikasi ambivalen bagi masyarakat. Sisi positifnya, masyarakat lebih cepat menerima informasi dan termotivasi mengikuti kegiatan bermanfaat, seperti olahraga atau aksi sosial. Media sosial juga memperluas jejaring sosial individu. Di sisi lain, dampak negatifnya mencakup tekanan untuk terus mengikuti tren di luar kebutuhan, perilaku konsumtif, penurunan kepercayaan diri, hingga kecemasan sosial akibat perbandingan sosial yang intens.

Dari perspektif sosiologi, FOMO menegaskan bahwa perilaku manusia tidak semata-mata didorong oleh kehendak pribadi, melainkan dibentuk oleh lingkungan sosial dan perkembangan teknologi digital. Karena itu, sosiologi membantu masyarakat memahami bahwa perubahan perilaku di era modern merupakan hasil relasi kompleks antara individu, kelompok sosial, dan media digital.

Kesimpulannya, FOMO menunjukkan bahwa teknologi tidak hanya mengubah cara manusia memperoleh informasi, tetapi juga membentuk pola perilaku sosial masyarakat modern. Sosiologi berperan penting dalam menjelaskan bagaimana lingkungan sosial dan media digital memengaruhi cara individu berpikir, berinteraksi, serta mengambil keputusan dalam kehidupan sehari-hari.

 

Safira Abd. Gani Mahasiswa Psikologi   Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik  Universitas Muhammadiyah Maluku Utara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel trendhalsel.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

KKSD UMMU Kelompok 4 Awali Pengabdian dengan Bersihkan Aula Desa dan Survei Lapangan
SMAS Tododara Maitara Resmi Buka Pendaftaran SPMB 2026/2027, Siap Cetak Generasi Unggul dan Berkarakter
Peran Sosiologi dalam Membaca Masyarakat Modern: Legu Gam dan Identitas Budaya Ternate di Tengah Arus Modernisasi
Flexing di Era Digital: Bentuk Eksistensi dan Pencarian Pengakuan Sosial di Kalangan Anak Muda
Peran Sosiologi dalam Memahami Masyarakat Modern
Isu Penyalahgunaan BBM di SPBUN Dufa-dufa Ternyata Salah Paham, Ini Penjelasan Pengelola
Tabebuya Mekar Serentak, Bacan dan Tidore Disulap Jadi “Negeri Empat Musim” Dadakan
KETIKA LOGIKA PASAR MENGUASAI DUNIA PENDIDIKAN
Berita ini 72 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 19 Mei 2026 - 07:39 WIT

KKSD UMMU Kelompok 4 Awali Pengabdian dengan Bersihkan Aula Desa dan Survei Lapangan

Senin, 11 Mei 2026 - 03:08 WIT

SMAS Tododara Maitara Resmi Buka Pendaftaran SPMB 2026/2027, Siap Cetak Generasi Unggul dan Berkarakter

Minggu, 10 Mei 2026 - 01:34 WIT

Peran Sosiologi dalam Membaca Masyarakat Modern: Legu Gam dan Identitas Budaya Ternate di Tengah Arus Modernisasi

Minggu, 10 Mei 2026 - 01:32 WIT

Flexing di Era Digital: Bentuk Eksistensi dan Pencarian Pengakuan Sosial di Kalangan Anak Muda

Sabtu, 9 Mei 2026 - 13:14 WIT

Peran Sosiologi dalam Memahami Masyarakat Modern: Fenomena FOMO di Era Digital

Berita Terbaru

Kepulauan Tidore

KKSD UMMU Kelompok 3 Bahas Program Pengabdian Bersama Pemdes Tului

Selasa, 19 Mei 2026 - 11:59 WIT

Halmahera Selatan

Kades Ilegal, Dana Desa Tidak Sah: Bom Waktu Korupsi di Depan Mata

Selasa, 19 Mei 2026 - 11:54 WIT

Kepulauan Sula

Mahasiswa Hukum UMMU Soroti Dugaan Korupsi DD dan ADD Desa Kabau Pantai

Minggu, 17 Mei 2026 - 04:12 WIT