Oleh: Anggun Tangahu, mahasiswa Psikologi Universitas Muhammadiyah Maluku Utara.
Masyarakat modern menghadapi perubahan sosial yang semakin kompleks di tengah derasnya arus globalisasi dan kemajuan teknologi digital. Cara komunikasi, gaya hidup, dan konservasi budaya lokal semuanya berubah dengan cepat. Dengan demikian, sosiologi dianggap sebagai bidang yang membantu memahami lebih jauh bagaimana masyarakat kontemporer berfungsi.
Sosiologi tidak hanya mempelajari hubungan sosial antarindividu, tetapi juga menelaah bagaimana masyarakat mempertahankan identitas, membangun solidaritas sosial, dan menghadapi perubahan budaya di era modern. Melalui pendekatan sosiologi, fenomena sosial dapat dianalisis secara ilmiah sehingga masyarakat mampu memahami dampak perubahan sosial terhadap kehidupan sehari-hari.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Di Ternate, Maluku Utara, perayaan Legu Gam adalah salah satu fenomena sosial budaya yang menarik untuk dipelajari. Legu Gam adalah tradisi budaya Kesultanan Ternate yang dilakukan secara teratur sebagai bagian dari perayaan hari ulang tahun Sultan Ternate. Namun, di zaman sekarang, Legu Gam telah berkembang menjadi simbol identitas sosial masyarakat Ternate dan daya tarik wisata budaya.
Dalam perspektif sosiologi, Legu Gam mencerminkan bentuk solidaritas sosial masyarakat. Emile Durkheim menjelaskan bahwa solidaritas sosial terbentuk melalui nilai, norma, dan tradisi bersama yang menyatukan masyarakat. Hal tersebut terlihat dalam pelaksanaan Legu Gam yang melibatkan berbagai unsur masyarakat, mulai dari tokoh adat, pemerintah daerah, pelaku seni budaya, hingga masyarakat umum yang ikut meramaikan festival budaya tersebut.
Berbagai kegiatan budaya seperti tarian tradisional, musik daerah, pawai adat, dan ritual kesultanan menjadi media interaksi sosial yang mempererat hubungan masyarakat. Di tengah kehidupan modern yang cenderung individualistis, Legu Gam justru menjadi ruang sosial yang memperkuat rasa kebersamaan masyarakat Ternate.
Fenomena ini menunjukkan bahwa budaya lokal terus memainkan peran penting dalam kehidupan modern. Globalisasi memang membawa banyak perubahan yang baik, seperti kemajuan teknologi dan kemudahan akses ke internet, tetapi juga menyebabkan masyarakat, terutama generasi muda, semakin terpengaruh oleh budaya luar. Ada banyak anak muda yang lebih memahami budaya modern daripada budaya daerahnya sendiri.
Dalam konteks tersebut, Legu Gam menjadi bentuk upaya masyarakat Ternate mempertahankan identitas budayanya. Tradisi ini menunjukkan bahwa masyarakat modern tetap membutuhkan akar budaya sebagai identitas kolektif. Dari sudut pandang sosiologi budaya, budaya lokal berfungsi menjaga keberlanjutan nilai sosial dan memperkuat karakter masyarakat di tengah perubahan zaman.
Legu Gam memiliki fungsi sosial dan budaya, tetapi juga berdampak ekonomi pada masyarakat. Melalui pariwisata, perdagangan, kuliner, dan usaha kecil dan menengah (UMKM) lokal, festival budaya ini dapat meningkatkan aktivitas ekonomi masyarakat. Banyak pelaku usaha kecil memanfaatkan momentum Legu Gam untuk menjual produk Ternate khas kepada wisatawan.
Fenomena tersebut sejalan dengan perkembangan masyarakat modern yang mulai mengintegrasikan budaya dan ekonomi kreatif. Perkembangan platform digital juga ikut membantu promosi budaya daerah melalui media sosial. Saat ini, budaya lokal tidak hanya dikenal melalui kegiatan langsung, tetapi juga melalui konten digital yang tersebar luas di internet. Platform digital bahkan menjadi sarana penting dalam memperkenalkan budaya tradisional kepada generasi muda. Banyak pelaku usaha lokal menggunakan media sosial untuk mempromosikan produk budaya dan kuliner tradisional. Pergeseran digital dianggap dapat memperluas pasar sekaligus mempertahankan identitas budaya lokal di tengah persaingan modern.
Namun demikian, modernisasi juga menghadirkan tantangan bagi keberlangsungan budaya lokal. Salah satu tantangan terbesar adalah komersialisasi budaya. Dalam beberapa kasus, budaya mulai dipandang hanya sebagai hiburan dan objek wisata semata tanpa memahami nilai sejarah dan filosofi yang terkandung di dalamnya. Tidak sedikit masyarakat yang menghadiri festival budaya hanya untuk kepentingan konten media sosial tanpa memahami makna budaya tersebut.
Selain itu, budaya tradisional juga menghadapi persaingan dengan budaya populer modern yang lebih cepat diterima generasi muda. Banyak kuliner dan budaya tradisional mulai tergeser oleh tren modern sehingga membutuhkan inovasi agar tetap bertahan di tengah perkembangan zaman.
Di sinilah pentingnya peran sosiologi dalam membaca fenomena masyarakat modern. Sosiologi membantu masyarakat memahami bahwa budaya bukan sekadar hiburan, tetapi bagian penting dari identitas sosial dan warisan sejarah suatu daerah. Melalui kajian sosiologi, masyarakat dapat melihat bagaimana tradisi seperti Legu Gam berfungsi menjaga solidaritas sosial, memperkuat identitas budaya, sekaligus menjadi sarana adaptasi masyarakat terhadap perubahan modern.
Legu Gam membuktikan bahwa masyarakat Ternate masih memiliki kesadaran kolektif untuk menjaga warisan budaya di tengah derasnya arus globalisasi. Tradisi ini menjadi contoh bahwa modernisasi tidak selalu menghilangkan budaya lokal, melainkan dapat berjalan berdampingan apabila masyarakat mampu mempertahankan nilai-nilai budaya secara bijaksana.
Pada akhirnya, sosiologi dapat membantu kita memahami masyarakat modern karena ia dapat menganalisis perubahan sosial, interaksi masyarakat, dan dinamika budaya yang terjadi dalam kehidupan modern. Fenomena Legu Gam di Ternate menunjukkan bahwa budaya lokal masih relevan sebagai simbol identitas, solidaritas sosial, dan kekuatan budaya masyarakat di era modern.









