Banjir Usai, Luka Membekas

- Penulis

Jumat, 2 Januari 2026 - 14:06 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Banjir bandang yang menerjang sejumlah wilayah di Sumatera Utara pada akhir November 2025—Deli Serdang, Karo, dan Langkat—memang telah surut. Air berlumpur tak lagi menggenang, puing-puing perlahan disingkirkan, dan angka kerugian materi mulai dihitung. Namun, di balik rumah yang roboh dan lahan pertanian yang hancur, ada luka lain yang jauh lebih dalam dan nyaris tak terdengar suaranya: luka jiwa masyarakat yang terdampak.

Yang membuat kami geram, justru luka inilah yang sepenuhnya diabaikan. Perhatian publik dan negara hampir selalu tertuju pada pemulihan fisik—membersihkan lumpur, membangun kembali rumah, memperbaiki jalan dan jembatan. Semua itu penting. Tetapi ketika jiwa manusia yang hancur dibiarkan tanpa sentuhan, maka pemulihan sejatinya belum pernah dimulai.

Dalam perspektif psikologi lingkungan, relasi manusia dengan ruang hidupnya memiliki pengaruh besar terhadap kondisi psikologis. Zukriska Iskandar (2012) menegaskan bahwa perubahan lingkungan yang drastis dan destruktif dapat memicu stres mendalam karena individu kehilangan rasa aman, kontrol, dan makna terhadap tempat tinggalnya. Inilah yang kini dialami masyarakat korban banjir bandang di Sumatera Utara. Lingkungan yang dahulu memberi kenyamanan, kini berubah menjadi sumber ancaman dan ketakutan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ini bukan sekadar soal lumpur dan tembok runtuh. Bagi para korban, suara hujan deras bukan lagi penyejuk, melainkan alarm bahaya. Mendung bukan lagi tanda berkah, melainkan pemicu kepanikan. Pada fase awal pascabencana, banyak korban mengalami Acute Stress Disorder (ASD)—ditandai kecemasan berlebihan, gangguan tidur, kilas balik traumatis, dan rasa takut intens terhadap hal-hal yang mengingatkan pada peristiwa banjir. Gemuruh air, hujan malam, bahkan angin kencang dapat menghidupkan kembali memori yang belum sempat sembuh.

Jika kondisi ini dibiarkan, stres akut dapat berkembang menjadi Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD)—gangguan psikologis jangka panjang yang menghancurkan kualitas hidup. Mimpi buruk berulang, kewaspadaan berlebihan, ketakutan keluar rumah, anak-anak sulit belajar, orang tua menjadi pendiam dan menarik diri—semua ini bukan kemungkinan, melainkan kenyataan yang perlahan menggerogoti kehidupan pascabencana.

Psikologi lingkungan menjelaskan bahwa trauma tidak hanya melekat pada peristiwa, tetapi juga pada makna yang dilekatkan individu terhadap lingkungannya. Ketika rumah dan kampung halaman tak lagi dipersepsi sebagai ruang aman dan dapat diprediksi, maka ketegangan psikologis akan terus berlanjut (Iskandar, 2012). Dunia terasa berbahaya, masa depan tampak tak terkendali, dan rasa percaya diri pun perlahan runtuh.

Baca Juga:  Rokok Ilegal Merajalela di Maluku Utara, Aliansi Peduli Rakyat Pertanyakan Ketegasan Negara

Dampaknya terlihat jelas. Anak-anak mengalami gangguan konsentrasi dan emosi. Lansia memilih diam, menarik diri dari interaksi sosial. Banyak korban merasa tidak berdaya, kehilangan rasa kompetensi diri, dan memandang hidup sebagai rangkaian ancaman tanpa akhir. Ini bukan kelemahan pribadi—ini akibat trauma yang tak ditangani.

Kerentanan psikologis pascabencana memang dipengaruhi banyak faktor: usia, kondisi ekonomi, pengalaman trauma sebelumnya, dan dukungan sosial. Namun psikologi lingkungan juga menegaskan satu hal penting: lingkungan sosial yang suportif mampu menjadi penyangga stres yang kuat. Di sinilah harapan masih menyala di Sumatera Utara.

Nilai gotong royong, solidaritas antarwarga, dan praktik religius menjadi penopang utama ketahanan mental masyarakat. Tawakal, ikhtiar, doa bersama, serta saling menguatkan antar tetangga memberi makna baru atas penderitaan. Sejalan dengan Iskandar (2012), makna simbolik, nilai budaya, dan spiritualitas dalam lingkungan sosial mampu memperkuat proses adaptasi individu di tengah krisis.

Namun, ketahanan masyarakat tidak boleh dijadikan alasan bagi negara untuk abai. Pemerintah dan media harus membuka mata dan telinga: pemulihan jiwa adalah hak korban, bukan bonus tambahan. Jangan biarkan masyarakat tumbuh dengan keyakinan bahwa dunia ini kejam dan tak bisa diandalkan. Jangan biarkan anak-anak membawa trauma ke masa depan, dan lansia menua dalam kesepian.

Pemulihan pascabencana harus dilakukan secara holistik dan berkelanjutan. Intervensi psikologis seperti terapi kognitif-perilaku perlu dipadukan dengan pendekatan berbasis komunitas: ruang aman untuk berbagi, pendampingan kelompok, bimbingan ustaz atau tetua adat, keterlibatan tokoh masyarakat dan tokoh agama. Semua ini bukan pelengkap—melainkan fondasi pemulihan yang manusiawi.

Pemerintah seharusnya mendukung upaya ini, bukan sekadar menyalurkan bantuan pangan. Kami tegas mengatakan: banjir ini adalah bukti bahwa pendekatan parsial sudah gagal. Membangun infrastruktur tanpa membangun jiwa rakyat sama saja dengan menutup mata secara kejam.

Banjir bandang di Sumatera Utara tidak hanya merusak tanah dan bangunan, tetapi juga meninggalkan luka psikologis yang mendalam. Jika pemulihan hanya berhenti pada beton dan aspal, maka masyarakat akan terus hidup dalam bayang-bayang trauma. Dengan mengintegrasikan psikologi lingkungan, dukungan sosial, serta nilai budaya dan religius, pemulihan pascabencana dapat berlangsung lebih adil, manusiawi, dan berkelanjutan.

Saatnya bertindak—demi Sumatera Utara yang lebih kuat, bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara jiwa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel trendhalsel.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Rokok Ilegal Merajalela di Maluku Utara, Aliansi Peduli Rakyat Pertanyakan Ketegasan Negara
Seorang Siswi SMP di Ternate Dilaporkan Hilang, Keluarga dan Polisi Minta Bantuan Warga
Pelabuhan Tobelo Disorot, Rokok Ilegal Lolos Tanpa Cukai: Negara Terancam Rugi Miliaran Rupiah
Kegiatan Temu Tani Gapoktan dan Poktan dengan penyuluh dari yayasan Bina Tani Sejahtera panah merah Wil kec Wasile dan Wasile Timur
Berita ini 27 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 2 Januari 2026 - 14:06 WIT

Banjir Usai, Luka Membekas

Senin, 22 Desember 2025 - 03:42 WIT

Rokok Ilegal Merajalela di Maluku Utara, Aliansi Peduli Rakyat Pertanyakan Ketegasan Negara

Senin, 22 Desember 2025 - 03:10 WIT

Seorang Siswi SMP di Ternate Dilaporkan Hilang, Keluarga dan Polisi Minta Bantuan Warga

Minggu, 21 Desember 2025 - 10:50 WIT

Pelabuhan Tobelo Disorot, Rokok Ilegal Lolos Tanpa Cukai: Negara Terancam Rugi Miliaran Rupiah

Kamis, 11 Desember 2025 - 11:06 WIT

Kegiatan Temu Tani Gapoktan dan Poktan dengan penyuluh dari yayasan Bina Tani Sejahtera panah merah Wil kec Wasile dan Wasile Timur

Berita Terbaru