KUHAP Baru 2026 Berlaku Efektif, Ini Hak Pelapor dan Langkah Hukum Jika Laporan Polisi Mandek

- Penulis

Minggu, 25 Januari 2026 - 04:12 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

HALMAHERA TENGAH — Sejak awal tahun 2026, sistem hukum acara pidana di Indonesia resmi memasuki babak baru. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2025 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP Baru) mulai berlaku efektif pada 2 Januari 2026, menggantikan KUHAP lama yang telah digunakan selama puluhan tahun.

Pemberlakuan KUHAP Baru ini digadang-gadang sebagai langkah besar reformasi penegakan hukum, dengan tujuan menciptakan proses hukum yang lebih transparan, akuntabel, dan berkeadilan, sekaligus memperkuat perlindungan hak asasi manusia bagi seluruh pihak, termasuk masyarakat sebagai pelapor tindak pidana.

Namun dalam praktiknya, masih banyak keluhan masyarakat terkait laporan polisi yang tidak kunjung diproses, bahkan terkesan dibiarkan tanpa kejelasan di tingkat Polres maupun Polsek. Kondisi ini memunculkan pertanyaan publik: apa yang bisa dilakukan pelapor jika laporannya mandek?

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

KUHAP Baru Perkuat Hak Pelapor

KUHAP Baru memberikan posisi yang lebih kuat bagi pelapor. Sejumlah ketentuan menegaskan bahwa aparat penegak hukum tidak boleh mengabaikan laporan masyarakat tanpa alasan hukum yang sah.

Salah satu dasar hukumnya adalah Peraturan Kapolri Nomor 7 Tahun 2022, yang menegaskan bahwa kepolisian wajib menerima laporan masyarakat. Ketentuan ini tetap relevan dan bahkan diperkuat dalam sistem hukum acara pidana terbaru.

Lebih jauh, UU Nomor 20 Tahun 2025 secara tegas membuka ruang pengaduan terhadap penyidik yang dengan sengaja tidak menindaklanjuti laporan, tanpa dasar hukum yang jelas. Artinya, penyidik tidak lagi kebal dari pertanggungjawaban etik maupun hukum.

Selain itu, pelapor memiliki hak atas Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan (SP2HP) yang wajib diberikan secara berkala sebagai bentuk transparansi penanganan perkara.

Langkah Hukum Jika Laporan Polisi Tidak Ditindaklanjuti

Apabila laporan polisi tidak menunjukkan perkembangan dalam jangka waktu tertentu, pelapor dapat menempuh sejumlah langkah hukum berikut:

  1. Meminta SP2HP Secara Resmi
Baca Juga:  Imbauan Internal PT IWIP Dinilai Batasi Hak Pekerja Terkait Aksi UMP 2026

Pelapor berhak mendatangi SPKT atau penyidik yang menangani perkara dan mengajukan permohonan SP2HP secara tertulis.

2. Mengadu ke Atasan Penyidik (Ankum)

Pelapor dapat membuat surat pengaduan resmi kepada Kapolres selaku atasan langsung penyidik, dengan tembusan ke Propam Polres atau Polda jika laporan didiamkan tanpa kejelasan.

3.Pengaduan Melalui Dumas Presisi

Kepolisian menyediakan layanan Dumas Presisi (Pengaduan Masyarakat) secara daring, yang dapat dimanfaatkan untuk melaporkan dugaan kelalaian atau penyimpangan penanganan perkara.

4. Lapor ke Wasidik (Pengawas Penyidikan)

Pengaduan juga dapat diajukan ke Bagian Wasidik di Polres atau Polda untuk dilakukan pengawasan dan evaluasi terhadap proses penyidikan.

5. Praperadilan Jika Terbit SP3

Apabila penyidik menerbitkan Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) yang dinilai tidak sah atau tidak berdasar, pelapor berhak mengajukan praperadilan ke pengadilan negeri.

Meskipun KUHAP Baru tidak mengatur batas waktu penyidikan secara kaku, hukum menegaskan bahwa penyidikan harus dilakukan segera setelah laporan diterima. Pelapor berhak memantau setiap tahapan dan meminta kejelasan proses hukum.

Masyarakat juga disarankan untuk menyimpan salinan Laporan Polisi (LP) atau tanda terima laporan sebagai bukti administratif dan dasar hukum. Jika seluruh upaya internal tidak mendapatkan respons, pengaduan dapat diajukan ke Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas).

Pemberlakuan KUHAP Baru 2026 seharusnya menjadi momentum perbaikan serius dalam penegakan hukum di Indonesia. Aparat penegak hukum dituntut lebih profesional dan terbuka, sementara masyarakat kini memiliki instrumen hukum yang lebih kuat untuk memperjuangkan haknya.

Untuk kasus konkret dan kompleks, masyarakat tetap dianjurkan berkonsultasi dengan penasihat hukum atau advokat guna memastikan langkah hukum yang tepat.

Penulis: Bung

Putra Desa Lukulamo, Kecamatan Weda Tengah, Kabupaten Halmahera Tengah, Provinsi Maluku Utara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel trendhalsel.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Rapat dan Diskusi DPC–DPP: Konsolidasi Buruh Dipertegas, Serikat Diminta Tak Sekadar Nama
Pilkades Tilope 2026: Yufen Moyau, S IP Dinilai Layak Pimpin Desa dengan Hati Nurani
Dugaan Pengeroyokan Gegerkan Desa Lukulamo, Polisi Lakukan Penyelidikan
Dewan Pengurus Cabang FSPIM-KPBI Mengucapkan Terima Kasih kepada Disnaker HALMAHERA TENGAH atas Pencatatan Serikat Buruh yang Sukses
Imbauan Internal PT IWIP Dinilai Batasi Hak Pekerja Terkait Aksi UMP 2026
Kontroversi di PT IWIP: Juru Bicara Diduga Gunakan Bahasa Tidak Pantas terhadap Karyawan
Gubernur Sherly Tjoanda Kunjungi Desa Luku Lamo dalam Rangka Gerakan Pangan Murah
Dugaan Penyalahgunaan Dana Desa: Bendahara Desa Sibenpopo Koralina Bahagia Diduga Beli Mobil Pribadi, Warga Desak Bupati Ikram Malan Sangadji Bertindak Tegas
Berita ini 26 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 5 Februari 2026 - 00:01 WIT

Rapat dan Diskusi DPC–DPP: Konsolidasi Buruh Dipertegas, Serikat Diminta Tak Sekadar Nama

Senin, 2 Februari 2026 - 22:11 WIT

Pilkades Tilope 2026: Yufen Moyau, S IP Dinilai Layak Pimpin Desa dengan Hati Nurani

Minggu, 25 Januari 2026 - 04:12 WIT

KUHAP Baru 2026 Berlaku Efektif, Ini Hak Pelapor dan Langkah Hukum Jika Laporan Polisi Mandek

Kamis, 22 Januari 2026 - 23:38 WIT

Dugaan Pengeroyokan Gegerkan Desa Lukulamo, Polisi Lakukan Penyelidikan

Rabu, 21 Januari 2026 - 05:49 WIT

Dewan Pengurus Cabang FSPIM-KPBI Mengucapkan Terima Kasih kepada Disnaker HALMAHERA TENGAH atas Pencatatan Serikat Buruh yang Sukses

Berita Terbaru