Halmahera Selatan — Peringatan Hari Kartini tahun 2026 di Sekolah Luar Biasa (SLB) Halmahera Selatan berlangsung semarak, hangat, dan penuh inspirasi. Puluhan siswa berkebutuhan khusus mengekspresikan diri melalui kegiatan mewarnai wajah Raden Ajeng Kartini, menghadirkan suasana belajar yang tidak hanya kreatif, tetapi juga sarat nilai perjuangan dan kesetaraan.
Sejak pagi hari, para siswa tampak antusias mengikuti kegiatan yang digagas pihak sekolah. Dengan didampingi guru, mereka tekun menuangkan warna menggunakan krayon, pensil warna, hingga cat air. Setiap goresan menjadi simbol keberanian mereka untuk berekspresi sekaligus bentuk penghormatan terhadap sosok Kartini.

Kepala SLB Halmahera Selatan, Marsumi S.Pd, mendapat sorotan positif atas inisiatif dan pendekatan humanis dalam memimpin kegiatan ini. Di bawah arahannya, peringatan Hari Kartini tidak sekadar menjadi agenda seremonial, tetapi juga momentum pembelajaran yang menyentuh aspek motorik, kreativitas, serta kepercayaan diri siswa.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Melalui kegiatan ini, kami ingin anak-anak mengenal sosok Kartini sekaligus memberi ruang bagi mereka untuk mengekspresikan diri dengan cara yang menyenangkan dan bermakna,” ungkap Marsumi.
Di tangan kepemimpinan Marsumi, suasana sekolah terasa hidup dan inklusif. Ia dinilai mampu menciptakan lingkungan belajar yang ramah, penuh empati, dan mendorong setiap siswa berkembang sesuai potensi masing-masing. Hasil karya siswa yang penuh warna kemudian dipajang di ruang kelas sebagai bentuk apresiasi, menambah rasa bangga dan semangat mereka.
Para guru juga memanfaatkan momen ini untuk memberikan pemahaman sederhana tentang perjuangan Kartini, khususnya dalam memperjuangkan hak pendidikan bagi perempuan. Nilai-nilai tersebut diharapkan mampu menginspirasi siswa untuk terus belajar, mandiri, dan percaya diri.
Peringatan Hari Kartini di SLB Halmahera Selatan menjadi bukti nyata bahwa semangat perjuangan tidak mengenal batas. Dengan sentuhan kepemimpinan yang inspiratif dari Marsumi S.Pd, kegiatan sederhana ini menjelma menjadi peristiwa yang menyentuh hati dan patut diapresiasi publik.
Lebih dari sekadar perayaan, kegiatan ini memperlihatkan bahwa pendidikan inklusif yang dikelola dengan dedikasi mampu melahirkan ruang belajar yang penuh makna—tempat setiap anak, tanpa terkecuali, dapat bersinar.









