Halmahera Selatan – Polemik dugaan tidak terdatanya seorang siswi dalam pelaksanaan Tes Kompetensi Akademik (TKA) di SDN 119 Halmahera Selatan terus memantik perhatian masyarakat. Persoalan yang awalnya dianggap sebatas kesalahan administrasi kini berkembang menjadi sorotan serius tentang tata kelola sekolah dan tanggung jawab dunia pendidikan di daerah.
Siswi bernama Sarkiyah H. Halil disebut tidak masuk dalam daftar peserta TKA yang telah dilaksanakan beberapa waktu lalu. Orang tua siswa, Halid Halil, mengaku terpukul setelah mengetahui anaknya tidak bisa mengikuti ujian bersama teman-temannya.
Bagi sebagian orang, ini mungkin hanya soal data yang terlewat. Namun bagi seorang anak sekolah dasar, kehilangan kesempatan mengikuti ujian bersama teman-teman seusianya adalah luka batin yang tidak sederhana.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Publik menilai persoalan ini menunjukkan bahwa kelalaian administrasi di sekolah bisa berdampak langsung pada psikologis siswa. Anak yang seharusnya fokus belajar justru harus menanggung rasa kecewa akibat kesalahan orang dewasa.
“Yang dirugikan bukan pejabat, bukan guru, tapi anak kecil yang sedang membangun masa depannya,” ujarnya.
Situasi ini menjadi ironi. Di saat pemerintah terus mendorong peningkatan mutu pendidikan, masih ada siswa yang diduga kehilangan hak dasar karena buruknya pendataan.
Kasus semakin menjadi perhatian setelah muncul klaim bahwa siswa tersebut diarahkan mengikuti ujian susulan dengan menggunakan biodata siswa lain yang sudah tidak aktif. Jika benar, langkah itu dinilai bukan penyelesaian, melainkan persoalan baru yang lebih serius.
Dunia pendidikan dibangun di atas nilai kejujuran dan integritas. Karena itu, setiap upaya yang berpotensi menyalahi aturan akan memperburuk kepercayaan masyarakat terhadap sekolah.
Masyarakat kini menunggu respons tegas dari Dinas Pendidikan Halmahera Selatan. Diamnya instansi terkait hanya akan menimbulkan kesan bahwa nasib siswa bisa diabaikan tanpa konsekuensi.
Audit administrasi, pemeriksaan internal, serta evaluasi kepemimpinan sekolah dinilai menjadi langkah penting untuk memulihkan kepercayaan publik.
Jika satu siswa bisa terlewat hari ini, siapa yang menjamin kejadian serupa tidak menimpa siswa lain esok hari?
Kasus SDN 119 Halmahera Selatan seharusnya menjadi alarm keras bahwa pendidikan tidak cukup dijalankan dengan rutinitas semata. Dibutuhkan ketelitian, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap setiap anak.
Sebab di balik satu nama yang hilang dari daftar ujian, ada mimpi seorang siswa yang tertunda, ada hati orang tua yang kecewa, dan ada kepercayaan masyarakat yang mulai runtuh.
Pemerintah daerah diminta tidak menunggu polemik semakin besar. Masa depan anak-anak Halmahera Selatan terlalu berharga untuk dikorbankan oleh kelalaian.
Tim/red









