Tangisan dari Tanah Kehidupan: Ketika Orang Kecil Hanya Punya Air Mata dan Doa

- Penulis

Jumat, 8 Mei 2026 - 10:54 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Di negeri yang kaya akan tanah, hutan, dan hasil alam, masih ada rakyat kecil yang harus menangis hanya untuk mempertahankan tempat mereka hidup. Kisah Alimusu dan istrinya bukan sekadar cerita tentang sengketa lahan. Ini adalah cerita tentang manusia yang perlahan kehilangan rasa aman di atas tanah yang selama ini mereka rawat dengan keringat dan doa.

Rumah sederhana milik Alimusu mungkin tidak pernah masuk dalam peta kekuasaan. Tidak ada pagar mewah. Tidak ada kendaraan mahal. Tidak ada pengaruh ataupun jabatan. Yang ada hanyalah dua manusia tua yang menggantungkan hidup pada kebun kecil yang mereka rawat sejak puluhan tahun lalu.

Di tanah itulah mereka menanam kehidupan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Setiap pohon yang tumbuh bukan hanya tanaman, melainkan saksi perjuangan. Ada peluh yang jatuh di bawah terik matahari. Ada tangan kasar yang terus bekerja meski tubuh mulai renta. Ada harapan sederhana agar anak-anak mereka bisa makan, bisa sekolah, dan bisa hidup lebih baik dari orang tuanya.

Namun hari-hari tenang itu perlahan berubah menjadi kecemasan.

Tanah yang selama ini menjadi tempat mereka bertahan hidup kini justru menjadi sumber ketakutan. Alimusu tidak banyak bicara. Ia bukan orang yang pandai berdebat. Ia hanya petani kecil yang memahami hidup dari cangkul dan tanah. Tetapi ketika rasa sakit itu sudah terlalu berat dipendam, akhirnya ia berbicara dengan suara yang nyaris patah.

“Jika memang mereka bermaksud menzalimi kami, biarlah Tuhan yang akan berperkara dengan mereka.”

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi menyimpan luka yang sangat dalam.

Tidak ada teriakan. Tidak ada ancaman. Yang ada hanya kepasrahan seorang rakyat kecil yang merasa dirinya terlalu lemah menghadapi keadaan. Di sampingnya, sang istri hanya menunduk sambil mengusap air mata yang terus jatuh tanpa suara.

Tangisan itu mungkin tidak terdengar sampai ke ruang-ruang rapat yang dingin. Namun bagi siapa pun yang masih memiliki hati nurani, kesedihan mereka terasa begitu nyata.

“Kami ini orang kecil,” ucap sang istri lirih.

Kalimat itu seolah menjadi gambaran ribuan rakyat kecil di negeri ini. Mereka bekerja diam-diam, hidup sederhana, tidak pernah membuat keributan. Tetapi ketika hak hidup mereka mulai terancam, mereka sering kali tidak tahu harus mengadu kepada siapa.

Baca Juga:  Warga Desa Kasiruta Dalam Gotong Royong Angkat Tiang Listrik PLN, Dipimpin Langsung Kepala Desa

Ironisnya, orang kecil selalu menjadi pihak yang paling mudah kehilangan.

Mereka tidak punya kuasa. Tidak punya uang besar. Tidak punya akses untuk membela diri. Yang mereka punya hanyalah keyakinan bahwa tanah yang mereka rawat dengan kerja keras seharusnya tidak dirampas begitu saja.

Warga sekitar mengenal Alimusu sebagai sosok pekerja keras yang tidak pernah mencari masalah. Karena itu, banyak yang ikut merasa sedih melihat keluarga tersebut kini hidup dalam ketakutan kehilangan tanah tempat mereka menggantungkan hidup.

Dan pertanyaan paling menyakitkan akhirnya keluar dari bibir Alimusu:

“Kalau tanah ini hilang, kami mau hidup bagaimana lagi?”

Pertanyaan itu seharusnya mengguncang hati siapa pun.

Sebab bagi rakyat kecil, kehilangan tanah bukan sekadar kehilangan aset. Itu berarti kehilangan dapur yang selama ini mengepul. Kehilangan sumber makan anak-anak. Kehilangan masa depan. Bahkan kehilangan harga diri sebagai manusia yang ingin hidup layak di atas tanahnya sendiri.

Di tengah kerasnya kehidupan, Alimusu tidak memilih jalan kebencian. Ia tidak mengutuk siapa pun. Ia hanya berharap keadilan masih ada.

Dan di situlah letak kesedihan terbesar negeri ini: ketika rakyat kecil hanya bisa berharap kepada Tuhan karena merasa terlalu kecil untuk berharap kepada manusia.

Kisah Alimusu adalah cermin bahwa pembangunan dan kekuasaan sering kali berjalan terlalu jauh hingga lupa melihat air mata rakyat kecil di pinggir jalan kehidupan. Padahal di balik setiap konflik tanah, selalu ada manusia yang sedang mempertahankan hidupnya.

Ada ibu yang takut anaknya kelaparan.

Ada ayah yang tidak bisa tidur memikirkan masa depan keluarga.

Ada keluarga sederhana yang setiap malam hanya mampu berdoa agar esok hari mereka masih memiliki tempat untuk bertahan hidup.

Mungkin bagi sebagian orang tanah hanyalah angka dan dokumen. Tetapi bagi Alimusu dan istrinya, tanah adalah kehidupan itu sendiri.

Dan ketika kehidupan rakyat kecil mulai direnggut perlahan, yang tersisa hanyalah tangisan, doa, dan harapan agar masih ada hati yang mau mendengar penderitaan mereka.(**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel trendhalsel.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kades Ilegal, Dana Desa Tidak Sah: Bom Waktu Korupsi di Depan Mata
Event Balap di Jalan Utama Halsel Tuai Sorotan, Warga Keluhkan Akses Ditutup dan Karcis Masuk
Dirut PDAM Halsel Klarifikasi Tagihan Air Rp967 Ribu, Akui Dipicu Kebocoran Instalasi Pelanggan
WERLINA TOTONONU Maju sebagai Calon Kepala Desa Bobo, Bawa Semangat Perubahan dan Harapan Baru untuk Masyarakat
Ketua GPM Halsel Desak Dirut PDAM Evaluasi Pegawai Terkait Dugaan Tarif Air Tidak Wajar
Warga Dusun Sungira Komplen Tarif Air Capai Rp967 Ribu, Pertanyakan Sistem Penagihan PDAM
Ketua GPM Harmain Rusli Desak Polres Halsel Segera Gelar Perkara Dugaan Perusakan 400 Pohon Cengkeh Milik Warga
Di Bawah Cahaya Redup, Kepastian Itu Seakan Mati Perlahan: Jejak Identitas dan Akreditasi SD Negeri 173 Halmahera Selatan yang Tak Kunjung Kembali
Berita ini 14 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 19 Mei 2026 - 11:54 WIT

Kades Ilegal, Dana Desa Tidak Sah: Bom Waktu Korupsi di Depan Mata

Sabtu, 16 Mei 2026 - 07:27 WIT

Event Balap di Jalan Utama Halsel Tuai Sorotan, Warga Keluhkan Akses Ditutup dan Karcis Masuk

Kamis, 14 Mei 2026 - 11:09 WIT

Dirut PDAM Halsel Klarifikasi Tagihan Air Rp967 Ribu, Akui Dipicu Kebocoran Instalasi Pelanggan

Kamis, 14 Mei 2026 - 07:32 WIT

WERLINA TOTONONU Maju sebagai Calon Kepala Desa Bobo, Bawa Semangat Perubahan dan Harapan Baru untuk Masyarakat

Kamis, 14 Mei 2026 - 06:02 WIT

Ketua GPM Halsel Desak Dirut PDAM Evaluasi Pegawai Terkait Dugaan Tarif Air Tidak Wajar

Berita Terbaru

Kepulauan Tidore

KKSD UMMU Kelompok 3 Bahas Program Pengabdian Bersama Pemdes Tului

Selasa, 19 Mei 2026 - 11:59 WIT

Halmahera Selatan

Kades Ilegal, Dana Desa Tidak Sah: Bom Waktu Korupsi di Depan Mata

Selasa, 19 Mei 2026 - 11:54 WIT