Peringati May Day, Front Perjuangan Untuk Demokrasi Desak Kenaikan Upah Buruh 

- Penulis

Jumat, 1 Mei 2026 - 12:24 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

TERNATE – Memperingati Hari Buruh Sedunia atau May Day yang jatuh pada hari ini, sejumlah massa yang tergabung dalam Front Perjuangan untuk Demokrasi menggelar aksi unjuk rasa di Kota Ternate, rute yang mereka datangi yakni kantor kediaman Gubernur Maluku Utara, dan kantor walikota Ternate. Jumat 1/5/2026

Aksi ini dilakukan sebagai bentuk protes terhadap kondisi kesejahteraan buruh dan akses pendidikan di Maluku Utara. Koordinator Lapangan (Korlap) aksi, Yasir Ashari, menegaskan bahwa momentum May Day kali ini bukanlah sekadar seremonial belaka. Sebaliknya, aksi ini merupakan gerakan perlawanan untuk menyuarakan 14 tuntutan rakyat, khususnya dari kalangan kelas pekerja.

“Ini bukan seremonial mengampanyekan kemenangan buruh, tetapi tentang perlawanan dan menuntut apa yang menjadi hak rakyat, khususnya kelas pekerja,” tegas Yasir.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurutnya, masifnya industri pertambangan di Provinsi Maluku Utara telah mengubah tatanan sosial, di mana banyak pelajar dan petani yang kini beralih profesi menjadi buruh. Namun, perubahan ini tidak dibarengi dengan peningkatan kesejahteraan yang layak.

Dua poin utama yang menjadi sorotan dalam aksi tersebut adalah desakan kenaikan upah buruh serta perwujudan pendidikan gratis yang ilmiah dan demokratis.

FPUD menilai, selama ini terjadi ketimpangan dalam pembagian hasil kerja kelas buruh yang berdampak pada sulitnya akses ke jenjang perguruan tinggi.

“Hasil kerja kelas buruh itu dibagi menjadi dua, termasuk untuk biaya kami yang melanjutkan perguruan tinggi. Kami melihat adanya pengisapan dan akumulasi terhadap nilai kerja ini,” ujar salah satu orator aksi.

Selain masalah upah, massa aksi juga mengkritik kebijakan pemerintah daerah, baik di tingkat Pemerintah Kota maupun Pemerintah Provinsi. Mereka menilai rezim kepemimpinan saat ini masih melakukan pelanggaran terhadap hak-hak masyarakat dan buruh.

Baca Juga:  Purna Bakti Penuh Haru, Diskominfo Ternate Lepas Ipson Aramuda dengan Penghormatan Istimewa

Meskipun pada aksi tersebut massa tidak berhasil menemui pejabat terkait karena bertepatan dengan hari libur, Yasir memastikan bahwa tuntutan mereka harus tetap menjadi perhatian publik melalui media.

“Harapannya, meski tidak bertemu instansi terkait karena hari libur, tuntutan ini terpublikasi di media. Ke depannya kami akan membangun konsolidasi yang lebih besar untuk menuntut apa yang menjadi hak kami,” pungkasnya.

Dalam aksi ini, Front Perjuangan Untuk Demokrasi (FPUD) Menegaskan empat belas point tuntutan yakni:

1. Hentikan Kriminalisasi Gerakan Buruh

2. Desak Pemkot Ternate untuk sediakan ambulance laut di Batang Dua, Hiri dan Moti

3. Hentikan perampasan ruang hidup petani dan nelayan

4. Bangun industrialisasi (Pabrik) nasional, serta nasionalisme industri dibawah kontrol buruh

5. Upah Layak Nasional untuk Kesejahteran Buruh

6 Wujudkan Reforma Agararia

7. Stop Kriminalisasi Buruh Tani

8. Berikan Kesejahteraan kepada Seluruh Tenaga Guru di Indonesi

9. Tolak Program MBG

10. Lawan Liberalisasi Pendidikan dan Skema Perdagangan Tenagakerja

11. Naikkan Upah Buruh, dan Wujudkan Pendidikan Gratis Ilmiah dan Demokratis

12. Tolak Reklamasi di Maluku Utara

13. Selesaikan Masalah Air Bersik di Kota Ternate

14. Aktifkan Kembali Pasar Sasa

Penulis: Muhajrin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel trendhalsel.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

KKSD UMMU Kelompok 4 Awali Pengabdian dengan Bersihkan Aula Desa dan Survei Lapangan
SMAS Tododara Maitara Resmi Buka Pendaftaran SPMB 2026/2027, Siap Cetak Generasi Unggul dan Berkarakter
Peran Sosiologi dalam Membaca Masyarakat Modern: Legu Gam dan Identitas Budaya Ternate di Tengah Arus Modernisasi
Flexing di Era Digital: Bentuk Eksistensi dan Pencarian Pengakuan Sosial di Kalangan Anak Muda
Peran Sosiologi dalam Memahami Masyarakat Modern: Fenomena FOMO di Era Digital
Peran Sosiologi dalam Memahami Masyarakat Modern
Isu Penyalahgunaan BBM di SPBUN Dufa-dufa Ternyata Salah Paham, Ini Penjelasan Pengelola
Tabebuya Mekar Serentak, Bacan dan Tidore Disulap Jadi “Negeri Empat Musim” Dadakan
Berita ini 26 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 19 Mei 2026 - 07:39 WIT

KKSD UMMU Kelompok 4 Awali Pengabdian dengan Bersihkan Aula Desa dan Survei Lapangan

Senin, 11 Mei 2026 - 03:08 WIT

SMAS Tododara Maitara Resmi Buka Pendaftaran SPMB 2026/2027, Siap Cetak Generasi Unggul dan Berkarakter

Minggu, 10 Mei 2026 - 01:34 WIT

Peran Sosiologi dalam Membaca Masyarakat Modern: Legu Gam dan Identitas Budaya Ternate di Tengah Arus Modernisasi

Minggu, 10 Mei 2026 - 01:32 WIT

Flexing di Era Digital: Bentuk Eksistensi dan Pencarian Pengakuan Sosial di Kalangan Anak Muda

Sabtu, 9 Mei 2026 - 13:14 WIT

Peran Sosiologi dalam Memahami Masyarakat Modern: Fenomena FOMO di Era Digital

Berita Terbaru

Kepulauan Tidore

KKSD UMMU Kelompok 3 Bahas Program Pengabdian Bersama Pemdes Tului

Selasa, 19 Mei 2026 - 11:59 WIT

Halmahera Selatan

Kades Ilegal, Dana Desa Tidak Sah: Bom Waktu Korupsi di Depan Mata

Selasa, 19 Mei 2026 - 11:54 WIT

Kepulauan Sula

Mahasiswa Hukum UMMU Soroti Dugaan Korupsi DD dan ADD Desa Kabau Pantai

Minggu, 17 Mei 2026 - 04:12 WIT