Oleh: Ardian yuswan
Mahasiswa Ilmu Administrasi Negara
Tuhan adalah pencipta segala sesuatau dan dia atas segala sesuatau maha kuasa, dialah pelaksana setiap detail dalam perjalan hidup yang sifatnya terus menerus, makna nominalnya kontinu, Tuhan bukan hanya Khalil atau tidak hanya menciptakan tetapi ia Khalil dalam setiap momen, ia bukan hanya yang menciptakan segalanya pada suatu masa melainkan terus menerus dalam setiap detak jantung, setiap nafas yang di hembuskan, setiap pikiran yang kita miliki adalah tindakan penciptaan tuhan itu sendiri, dengan tulisan ini penulis mencoba membawa kita melihat perbedaan manusia dengan diptera serta mengambil hikmah darinya
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Manusia diciptakan Allah swt. melalui sebuah proses alami yang berlangsung dalam beberapa tahap. Ada empat tahap proses penciptaan manusia, yaitu tahap jasad, hayat, ruh, dan nafs. Manusia juga mempunyai karakteristik-karakteristik biologis tertentu yang membedakannya dengan hewan, berjalan tegak, mempunyai ibu jari, mempunyai otak yang lebih tinggi perkembangannya, dilengkapi organ vokal dan mempunyai potensi-potensi yang sangat platis dan dapat diadaptasi.
Selain itu Manusia adalah makhluk yang memiliki posisi mulia serta lahir di atas bumi ini dengan potensi yang istimewa. Sebagaiman yang dikatakan Imam Al-Ghazali bahwa manusia terdiri dari dua unsur yaitu, jasad dan roh atau jiwa. Dengan jasad manusia dapat bergerak dan merasa, dengan roh manusia dapat berfikir, mengingat, mengetahui dan sebagainya (Daudy, 1986: 115).
Setidaknya ada tiga kata yang digunakan Al-Qur’an untuk menunjuk makna manusia, yaitu: al-basyar, al-insan dan al-nas. Kata al-basyar dan dinyatakan dalam Al-Qur’an sebanyak 36 kali tersebar dalam 26 surat. Secara etimologi al-basyar berarti kulit kepala, wajah atau tubuh yang menjadi tempat tumbuh rambut (Al-Rasyidin dan Nizar, 2005: 1-2). Bagi penulis al-basyar lebih kepada biologis atau bentuk fisik.
Kata al-insan berasal dari kata al-uns, dinyatakan dalam Al-Qur’an sebanyak 73 kali dan tersebar dalam 43 surat. Kata al-insan digunakan untuk menunjukkan totalitas manusia sebagai makhluk jasmani dan rohani atau digunakan untuk proses kejadian manusia. Kata alinsan juga untuk menjelaskan sifat umum, serta sisi kelebihan dan kelemahan manusia/ positif dan negatif (Al-Rasyidin dan Nizar, 2005: 5-10).
Dalam bukunya Murtadha Muthahhari (Falsafah Agama dan Kemanusiaan), ia berpandangann bahwa, Pada hakikatnya, manusia adalah sejenis binatang yang memiliki banyak kesamaan dengan binatang akan tetapi ada ciri khusus yang membedakan manusia dan binatang yang menjadikan manusia lebih unggul. Salah satunya adalah sikap dan kecenderungan. Secara umum binatang mempunyai kemampuan melihat dan mengenal dirinya serta dunia sekitarnya. Dengan berbekal pengetahuan yang di peroleh dari melihat dan mengenal. Maka binatang berusaha untuk mendapatkan apa yang diinginkan.
Sedemikian pula manusia juga mempunyai banyak keinginan, dengan bekal pengetahuan dan pengertianya, manusia berusaha paya mewujudkan keinginannya. Dengan demikian manusia berbeda dengan makhluk hidup laninya, manusia lebih tahu, lebih mengerti, dan lebih tinggi tingkat keinginannya. Akan tetapi keungulan manusia tidak selalu membuatnya bijaksana, diera modern, manusia hidup dalam dunia yang serba cepat. Yang dimana Teknologi berkembang pesat, media sosial membentuk pola pikir, dan ukuran keberhasilan sering dinilai dari materi, jabatan, popularitas, serta kekuasaan.
Akibatnya, manusia mulai melihat sesuatu hanya berdasarkan manfaat praktis dan keuntungan pribadi. Makhluk kecil seperti diptera (lalat), dan serangga lainnya dianggap tidak penting, bahkan menjijikkan. Padahal dalam ekosistem, makhluk kecil tersebut memiliki fungsi penting bagi keseimbangan alam. Manusia modern merasa dirinya paling unggul, paling cerdas, dan mampu mengendalikan segalanya. Namun di sisi lain, manusia juga sering kehilangan makna hidup, empati, dan kesadaran terhadap alam maupun sesama.
Diptera (lalat) adalah makhluk yang sering kita usir tanpa pernah kita dengarkan pesannya. la kecil, dianggap hina, hinggap di tempat yang kita jauhi, dan tetap hidup meski dicela oleh pandangan. Namun para arif belajar bukan dari apa yang indah semata, melainkan dari apa pun yang Allah ciptakan. Diptera tidak memilih takdirnya. ia diciptakan sebagai diptera dan tidak bermimpi menjadi kupu-kupu, pula tidak menyesali sayapnya yang kasar atau dengungnya yang mengganggu. la menerima bentuknya sepenuh hati, kemudian ia menjalani hidup sesuai perintah sunyi Tuhannya. Dimana ada sisa disitu ia datang. Di mana ada bau disitu ia hadir. Bukan karena ia kotor atau tempatnya kotor, melainkan karena itulah wilayah amanahnya.
Sesuatu yang terlihat jijik bagi manusia adalah ladang tugas bagi diptera. Disitulah hakikat pertama terbuka. Bukan kelibihan bukan pula kekuasaan, tetapi tuhan membagi peran, sesuatu yang tampak rendah di mata manusia belum tentu rendah di hadapan-Nya. Diptera mengajarkan tentang ketergantungan. la tidak menimbun dan tidak menyimpan, hidupnya bergantung pada apa yang tersedia hari ini. Jika adanya rezeki, ia hidup dan jika tidak, ia mati. Tanpa cemas akan hari esok. Tanpa rencana yang panjang. Tanpa ilusi kendali. Bukankah ini yang disebut hakikat tawakal yang sering kita ucapkan namun jarang kita hidupi? Ketika mahluk diptera hinggap di tanganmu, ia tidak tahu bahwa engkau jijik.
la tidak tahu tentang harga diri, tentang status juga tentang gengsi. la hanya tahu satu hal, di sana ada kehidupan. Manusia justru sering mati karena terlalu sibuk menjaga martabat semu, hingga lupa menjaga nyawa batin. Hakikat mahluk diptera juga tentang kerendahan. Hidupnya selalu dekat tanah, dekat sisa, dekat buangan. Sedangkan manusia ingin selalu di atas, ingin bersih di mata sesama, namun lalai membersihkan hati. Padahal jalan pulang kepada Allah sering dimulai dari hal-hal yang kita buang. Dan dengung diptera itu bukan kebisingan tanpa makna.
la seperti dzikir kecil yang tak dipedulikan telinga dunia. Terus berulang, terus setia, tanpa berharap dipuji. Tanpa ingin didengar. Berapa banyak manusia beribadah namun masih menuntut pengakuan? Berapa banyak amal yang mati karena ingin terlihat?. Diptera tidak peduli dicintai atau dibenci. la hanya patuh pada kodratnya. Dan dalam kepatuhan itulah ia selamat sebagai diptera. Di hadapan hakikat ini, kita belajar merendah.
Bahwa mungkin yang membuat kita jauh dari Tuhan bukan karena dosa besar, melainkan karena merasa terlalu suci untuk belajar dari makhluk yang kita remehkan. Sebab siapa yang menolak hikmah karena pembawanya tampak hina, sesungguhnya sedang menutup pintu hakikat dengan tangannya sendiri. Maka jika suatu hari mahluk diptera hinggap di hadapanmu, jangan hanya mengusirnya. Diamlah sejenak. Biarkan hatimu bertanya. “Sudahkah aku setulus Diptera dalam menerima takdirku, dan setia menjalani peranku tanpa banyak tuntutan kepada Tuhan.
Hikmah yang dapat diambil adalah bahwa setiap ciptaan Tuhan memiliki fungsi dan maknanya masing-masing. Tidak ada makhluk yang diciptakan sia-sia. Manusia memang diberi akal dan derajat yang tinggi, tetapi kelebihan itu seharusnya melahirkan rasa syukur, rendah hati, serta tanggung jawab untuk menjaga kehidupan, bukan untuk meremehkan ciptaan Tuhan lainnya.









