PENDIDIKAN BERADA DALAM PENJARA KEKUASAAN 

- Penulis

Sabtu, 2 Mei 2026 - 22:08 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Isran Sangaji

Sejarah pendidikan kita tidak bisa dilepaskan dari apa yang disebut Antonio Gramsci sebagai Hegemoni. Gramsci menjelaskan bahwa penguasa tidak hanya memimpin melalui kekerasan, tetapi melalui “konsensus” yang diciptakan di lembaga pendidikan. Era Orde Baru adalah manifestasi nyata dari hal ini. Lewat program NKK/BKK (Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan), penguasa melakukan domestikasi terhadap nalar kritis.

Pendidikan diarahkan untuk menjadi alat legitimasi kekuasaan. Mahasiswa, yang seharusnya menjadi agen perubahan, dipaksa masuk ke dalam ruang kuliah yang steril dari isu sosial. Inilah yang menyebabkan lahirnya “intelektual tukang” mereka yang cerdas secara teknis untuk melayani para pemodal, namun buta secara sosial terhadap penindasan di sekitarnya. Pendidikan kita telah gagal membentuk “Intelektual Organik” yang mampu menyuarakan jeritan rakyat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ketika kita memasuki era pascareformasi, janji akan demokratisasi pendidikan justru terjebak dalam lubang hitam neoliberalisme. Kebijakan otonomi pendidikan yang Anda sebutkan, jika dibedah dengan kacamata Ivan Illich dalam bukunya “Deschooling Society”, menunjukkan bahwa sekolah telah menjadi institusi yang memonopoli kebenaran dan kesejahteraan.

Illich berpendapat bahwa sekolah modern sering kali lebih mementingkan “sertifikasi” daripada “substansi”. Di Indonesia, ini berwujud pada komersialisasi. Pendidikan menjadi barang mewah. Hak warga negara untuk cerdas digantikan oleh transaksi jual beli jasa. Teori Human Capital (Modal Manusia) yang diagungkan pemerintah sering kali salah kaprah; manusia hanya dipandang sebagai investasi ekonomi (SDM), bukan sebagai manusia utuh yang memiliki martabat dan jiwa.

Ironi pendidikan kita hari ini juga bisa dilihat melalui teori Simulakrum dari Jean Baudrillard. Kita terjebak dalam citra. Pemerintah membanggakan angka-angka statistik, jumlah lulusan, dan peringkat universitas, namun mengabaikan realitas sekolah yang atapnya roboh di pelosok negeri.

Kita menciptakan realitas semu di mana “prestasi” dikejar melalui jalur-jalur instan dan elitis, sementara basis karakter bangsa keropos. Peringkat akademik kita yang rendah di level internasional (seperti skor PISA) adalah bukti bahwa kita hanya sibuk memoles permukaan, sementara pondasi berpikir logis dan kritis siswa tidak pernah dibangun dengan serius karena kurikulum yang terlalu politis dan berganti-ganti demi proyek.

Baca Juga:  Pemprov Maluku Utara Dorong Kesejahteraan Nelayan Melalui Skema KUR

Jika kita berkaca pada Tan Malaka dalam “Madilog”, beliau menekankan bahwa tujuan pendidikan adalah untuk membebaskan pikiran dari logika mistik dan ketundukan. Para pendiri bangsa kita adalah para pembaca buku yang rakus. Mereka memahami bahwa kemerdekaan hanya bisa dipertahankan oleh rakyat yang berpengetahuan.

Namun, saat ini kita melihat paradoks yang menyedihkan. Para pemimpin kita justru menjadi “diktator ekonomi” yang merobek kekayaan alam demi kepentingan kroni, membiarkan ketimpangan ekonomi melebar. Pendidikan yang seharusnya menjadi alat “Social Escalator” (tangga sosial) bagi rakyat kecil, kini justru menjadi tembok tinggi yang memisahkan si kaya dan si miskin. Ini adalah pengkhianatan terhadap cita-cita keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Apa yang harus kita perbuat? Kita tidak boleh hanya menjadi penonton dalam teater kebobrokan ini. Mengurai benang kusut pendidikan memerlukan langkah-langkah radikal (kembali ke akar). Bukan membawa politik praktis ke kampus, melainkan mengembalikan kesadaran politik siswa bahwa pendidikan adalah alat perjuangan keadilan. Menghidupkan kembali budaya membaca sejarah. Tanpa sejarah, kita adalah bangsa penderita amnesia yang mudah dibohongi oleh retorika elit.

Sebagaimana diajarkan Paulo Freire, harus ada kesatuan antara teori dan aksi. Generasi saat ini harus turun ke masyarakat, melihat problematika sosial secara langsung, dan menjadikan ilmu pengetahuan sebagai solusi bagi ketimpangan ekonomi, bukan sekadar alat mencari gaji.

Pendidikan Indonesia tidak boleh terus-menerus menjadi santapan para diktator maupun komoditas pasar global. Kita butuh pendidikan yang “memanusiakan manusia”, bukan pendidikan yang mencetak “robot” pekerja murah. Jika politik pendidikan di tingkat atas sudah rusak, maka gerakan harus dimulai dari bawah dari setiap individu yang berani membuka buku, berani bertanya, dan berani melawan pembungkaman.

Hanya dengan keberanian dan kejujuran, sebagaimana yang dimiliki para pendiri republik ini, kita bisa menarik ujung benang kusut itu dan merajut kembali kain peradaban bangsa yang bermartabat, mandiri, dan berdaulat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel trendhalsel.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Abdul Aziz Hakim Desak Kejati Malut Segera Umumkan Tersangka Kasus Tunjangan DPRD
KEPERAWANAN HUTAN MALUKU UTARA DIKEPUNGAN INDUSTRI EKSTRAKTIF
Milad ke-15, IPMW MAB-SEL Tegaskan Komitmen Perjuangan dan Kemanusiaan
Nobar Film “Pesta Babi” di Benteng Oranje Dibubarkan TNI
Beri Kulih Tamu Di IAIN Ternate, Senator Graal Taliawo Ajak Mahasiswa IAIN Ternate Bangun Politik Gagasan
Ombudsman Malut Dampingi Pemda Morotai Persiapan Penilaian Pelayanan Publik 2026
Graal Taliawo Dorong RUU Kepulauan dan Moratorium IUP di Malut
Pangan Murah Hadir di IAIN Ternate, Mahasiswa Terbantu
Berita ini 31 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 15 Mei 2026 - 03:31 WIT

Abdul Aziz Hakim Desak Kejati Malut Segera Umumkan Tersangka Kasus Tunjangan DPRD

Rabu, 13 Mei 2026 - 00:18 WIT

KEPERAWANAN HUTAN MALUKU UTARA DIKEPUNGAN INDUSTRI EKSTRAKTIF

Selasa, 12 Mei 2026 - 11:59 WIT

Milad ke-15, IPMW MAB-SEL Tegaskan Komitmen Perjuangan dan Kemanusiaan

Jumat, 8 Mei 2026 - 22:53 WIT

Nobar Film “Pesta Babi” di Benteng Oranje Dibubarkan TNI

Jumat, 8 Mei 2026 - 06:20 WIT

Beri Kulih Tamu Di IAIN Ternate, Senator Graal Taliawo Ajak Mahasiswa IAIN Ternate Bangun Politik Gagasan

Berita Terbaru

Kepulauan Tidore

KKSD UMMU Kelompok 3 Bahas Program Pengabdian Bersama Pemdes Tului

Selasa, 19 Mei 2026 - 11:59 WIT

Halmahera Selatan

Kades Ilegal, Dana Desa Tidak Sah: Bom Waktu Korupsi di Depan Mata

Selasa, 19 Mei 2026 - 11:54 WIT

Kepulauan Sula

Mahasiswa Hukum UMMU Soroti Dugaan Korupsi DD dan ADD Desa Kabau Pantai

Minggu, 17 Mei 2026 - 04:12 WIT